Kisah Wanita yang Diancam Siksa Neraka karena Seekor Kucing

Sudah tidak perlu dipertanyakan lagi, bagaimana agama ini mengatur segala sis kehidupan. Mengatur bagaimana berperilaku, bukan hanya kepada sesama manusia, tetapi pada semua makhluk ciptaan-Nya. Islam ialah ajaran yang mengedepankan kasih dan sayang pada semua hal. Tiada pilih kasih, tiada pandang bulu. Lihatlah bagaimana Rasulullah tiada sekali pun pernah berbuat kasar pada manusia. Betapa beliau sangat memuliakan semua makhluk ciptaan Allah.

Terkisah bahwa Rasulullah pernah dengan rela memotong sebagian jubah kesayangannya, hanya karena ada seekor kucing yang sedang tertidur pulas di atasnya. Tidak ingin mengganggu dan membangunkan kucing itu, beliau pun merobek jubahnya. Kemudian bila perilaku Rasulullah dibandingkan dengan kita? Betapa banyak manusia yang tega hatinya berlaku kasar kepada sesamanya. Memperlakukan manusia sebagaimana binatang peliharaan. Memperlakukan hewan sebagaimana tiada memiliki kepekaan nurani di dalam hatinya.

Islam sangat menjaga perilaku manusia, tak terkecuali kepada hewan yang sekiranya banyak manusia berlaku semena-mena pada mereka. Terkisah pada sebuah riwayat, seorang wanita yang dengan sengaja mengurung seekor kucing. Tidak memberi makan dan minum kepadanya, hingga kucing tersebut mati kelaparan. Tidak juga membiarkannya mencari makan sendiri. Tersebab kedzalimannya itu, Allah mengancamnya dengan siksa di neraka.

Sebagaimana tertuang dalam sebuah hadist riwayat Imam Bukhari dan Muslim, “Seorang perempuan disiksa gara-gara seekor kucing. Dia mengurung kucing itu sampai mati. Karena itulah dia masuk neraka. Perempuan itu tidak memberi makan dan minum kepadanya -tatkala dia kurung-. Dan dia pun tidak melepaskannya supaya bisa memakan serangga atau binatang tanah.”

Betapa Allah mengancam dengan siksaan kelak di neraka, bagi seorang wanita yang dengan kesengajaannya menjadi sebab matinya seekor kucing. Lantas bagaimana dengan banyak manusia, atau perilaku kita yang juga seringkali dzalim pada hewan? Memukulnya, menendang, berlaku kasar, bahkan ada yang dengan sengaja membunuh? Tentu perilaku ini berbeda pada hewan ternak yang secara kodrat dikonsumsi oleh manusia.

Pada riwayat berbeda diterangkan, bahwa kucing ialah salah satu hewan kesayangan Rasulullah. Maka betapa beliau memperlakukannya dengan amat baik. Jauh dari sikap-sikap kedzaliman.

Renungkanlah, hewan tiada dibekali akal oleh Penciptanya. Maka menjadi sebuah kewajaran bila mereka berlaku tidak seperti keinginan atau kebiasaan manusia. Sebuah masalah bila manusia merasa kesal atau marah pada hewan tersebab mereka mengerjakan takdirnya sebagai makhluk yang tidak berakal. Sesungguhnya yang bermasalah hewannya, atau diri kita?

Betapa Abu Hurairah mendapat gelar bapak dari kucing kecil tersebab tekad kuatnya mengamalkan apa yang telah didapatnya dari Rasulullah. Betapa tersebab memberi minum seekor anjing yang sedang terkapar kehausan, seorang wanita pendosa dijamin surganya oleh Allah? Maka renungkanlah kembali, bahwa pada hewan yang kita sayangi, pada hewan yang kita pelihara dengan baik, ada pintu-pintu kasih sayang Allah. Ada pintu-pintu keberkahan dari Allah. Ada benih-benih amal kebaikan, yang kelak insyaAllah menjadi pemberat timbangan menuju surga Allah Subhanahu Wa Ta’ala.